Penulis: Ahmad Sofyan, M.Si., M.Pd. dan H. Abdul Aziz, M.E., M.Pd.
Penerbit: Cv. Abdi Fama Group
ISBN: On Proses
Jumlah halaman: 180 hal
Harga: 50.000
Pre Order: 28 April 2025
HP: 08977854425
Sinopsis:
Buku ini mengangkat refleksi kritis atas perjalanan dan arah masa depan Math’laul Anwar sebagai salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia. Di tengah dinamika sosial-politik, perubahan generasi, serta tantangan globalisasi dan digitalisasi, Math’laul Anwar dituntut untuk meneguhkan kembali identitas, orientasi perjuangan, serta kontribusinya dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan.
Berangkat dari pendekatan fikih organisasi, buku ini menawarkan kerangka normatif-teologis sekaligus sosiologis dalam membaca gerak organisasi. Fikih organisasi dimaknai bukan sekadar aturan administratif, melainkan etika kolektif yang berpijak pada nilai-nilai syura (musyawarah), amanah, tajdid (pembaruan), dan kemaslahatan. Dengan perspektif ini, organisasi dipahami sebagai entitas moral yang memiliki tanggung jawab keumatan dan kebangsaan.
Secara historis, Math’laul Anwar telah memainkan peran penting dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat sejak awal abad ke-20. Namun, perubahan lanskap politik nasional dari masa kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi menghadirkan tantangan baru: bagaimana menjaga independensi organisasi tanpa kehilangan relevansi dalam percaturan kebijakan publik? Bagaimana menempatkan diri dalam relasi antara agama dan negara tanpa terjebak pada polarisasi ideologis?
Buku ini juga mengkaji posisi Math’laul Anwar dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, dan konstitusi. Ditekankan bahwa arah kebangsaan organisasi tidak dapat dilepaskan dari komitmen terhadap prinsip keadilan sosial, moderasi beragama, serta penguatan masyarakat sipil. Dengan demikian, Math’laul Anwar tidak hanya menjadi organisasi dakwah dan pendidikan, tetapi juga aktor strategis dalam merawat kohesi sosial dan demokrasi.
Melalui analisis konseptual dan refleksi praksis, buku ini mengajukan sejumlah pertanyaan mendasar: Ke mana arah ideologis dan organisatoris Math’laul Anwar ke depan? Apakah ia akan memperkuat basis pendidikan sebagai poros utama gerakan? Bagaimana membangun tata kelola organisasi yang profesional tanpa tercerabut dari akar tradisi keulamaan? Dan bagaimana merumuskan ulang visi kebangsaan agar tetap kontekstual di tengah tantangan radikalisme, pragmatisme politik, serta disrupsi digital?
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya telaah akademik, melainkan juga ajakan reflektif bagi para kader, pemikir, dan penggerak Math’laul Anwar untuk menata ulang orientasi gerakan secara visioner dan berkelanjutan. Ia menawarkan sintesis antara warisan nilai keislaman, prinsip organisasi modern, dan komitmen kebangsaan—sebagai fondasi untuk menjawab pertanyaan besar: ke mana arah Math’laul Anwar di masa depan?

