Penulis: Nur Afiyah, S.Pd.I, M.Ag.
Penerbit: Cv. Abdi Fama Group
ISBN: On Proses
Halaman: 250
Pre Order: 15 Nopember 2026
Harga: 75.000
Pemesanan: 08977854425.
Sinopsis:
Keluarga seharusnya menjadi ruang pertama tempat anak memperoleh rasa aman, kasih sayang, penerimaan, dan pembentukan karakter. Namun, tidak semua pola pengasuhan menghadirkan pengalaman tersebut. Tanpa disadari, pola komunikasi, tuntutan, kontrol berlebihan, kekerasan verbal maupun emosional, serta pengabaian kebutuhan psikologis anak dapat berkembang menjadi toxic parenting—pola pengasuhan yang meninggalkan luka dan memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang.
Buku ini mengajak pembaca memahami toxic parenting secara lebih kritis melalui dialog antara teori attachment dan perspektif Al-Qur’an. Teori attachment membantu menjelaskan bagaimana hubungan anak dengan orang tua pada masa awal kehidupan membentuk rasa aman, kepercayaan, regulasi emosi, serta pola hubungan interpersonal di kemudian hari. Sementara itu, Al-Qur’an memberikan kerangka etis dan spiritual tentang bagaimana relasi orang tua dan anak semestinya dibangun berdasarkan kasih sayang, tanggung jawab, penghormatan, perlindungan, dan pendidikan yang berorientasi pada kemaslahatan.
Pembahasan buku ini tidak berhenti pada identifikasi perilaku toxic, tetapi juga mengurai akar persoalannya: mengapa orang tua dapat terjebak dalam pola pengasuhan yang merusak, bagaimana dampaknya terhadap perkembangan psikologis dan relasi anak, serta mengapa pola tersebut terkadang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan pendekatan yang integratif, buku ini berupaya mempertemukan temuan psikologi modern dengan nilai-nilai Al-Qur’an tanpa memaksakan ayat sebagai pembenaran atas teori psikologi.
Pada akhirnya, buku ini menawarkan jalan keluar berupa refleksi, kesadaran diri, perbaikan komunikasi, penguatan secure attachment, serta rekonstruksi pola pengasuhan yang lebih sehat dan Qur’ani. Buku ini diperuntukkan bagi orang tua, calon orang tua, pendidik, mahasiswa, akademisi, konselor, maupun siapa saja yang ingin memahami bahwa menjadi orang tua bukan sekadar menjalankan peran biologis, melainkan menghadirkan lingkungan yang memungkinkan anak tumbuh dengan aman, bermartabat, dan penuh kasih.

